Ada Hikmat Di Balik Sepotong Roti


DiaryMahasiswa.comSeorang pria sedang duduk menunggu di stasiun pada pagi hari. Masih ada waktu beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk memanfaatkan waktu, ia pergi untuk membeli buku dan sekantong roti di toko dekat stasiun, lalu duduk ditempat yang tadi.

Sembari duduk pria tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Ketika asik membaca, ia melihat seorang bapat tua disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu roti yang ada diantara mereka berdua. Pria tersebut mencoba untuk mengabaikan supaya tidak terjadi keributan.

Pria itu tetap melanjutkan membaca bukunya sambil mengunyah roti. Sedangkan bapa tua yang mencuri roti menghabiskan persediannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Bapa tua itupun sempat berfikir "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!" Setiap ia mengambil satu roti, si pria itu pun mengambil satu.

Mereka tak sadar, ternyata tersisa satu potong roti, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan pria itu. Dengan senyum dan tawa di wajahnya dan gugup, si pria itu mengambil roti terakhir dan membaginya dua. Si pria itu mencoba menawarkan sepotong roti miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si bapa tua pun merebut roti itu dan berpikir, “Ya ampun orang ini berani sekali”, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat pemberangkatan kereta diumumkan, dan ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si pencuri tak tahu terima kasih!. Ia naik kereta dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget.

Disitu ada kantong rotinya, di depan matanya. Kok milikku ada di sini, ujarnya dengan patah hati. Jadi roti tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.

Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri roti itu. Dalam hidup ini kisah pencuri roti seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.

Padahal kita sendiri yang mencuri roti tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Yogyakarta, 28 Desember 2014

December 28, 2014 - 4 komentar

4 comments:

Terima kasih sudah membaca diary kali ini. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya. Komentar dari sahabat diary mahasiswa merupakan sebuah apresiasi besar untuk penulis :)

  1. Suatu pelajaran yang simple dan mudah dicerna..

    ReplyDelete
  2. Iya betul cerita yang simpel dan mudah dipahami..

    ReplyDelete
  3. Dalam kenyataan, akulah benar-benar pencuri roti yang tak tahu diri itu. . . maafkan kawan.

    ReplyDelete